Grup D : Spanyol


Spanyol
10/06/08 vs Rusia
14/06/08 vs Swedia
18/06/08 vs Yunani

Stok Pemain
Kiper : Iker Casillas, Pepe Reina.
Belakang : Raul Albiol, Joan Capdevila, Juanito Gutierrez, Pablo Ibanez, Antonio Lopez, Angel Lopez, Carlos Marchena, Mariano Pernia, Carles Puyol, Sergio Ramos, Michel Salgado, Javi Navarro.
Tengah : David Albelda, Xabi Alonso, Cesc Fabregas, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Borja Oubina, Jose Antonio Reyes, Joaquin, Marcos Senna.
Depan : Miguel Angel Angulo, Luis Garcia Fernandez, Luis Garcia, Raul Gonzalez, Daniel Guiza, David Silva, Fernando Morientes, Albert Riera, Roberto Soldado, Raul Tamudo, Fernando Torres, David Villa.

Road to Final (H : Home, A : Away)
02/09/06 vs Liechtenstein (H) 4 - 0
06/09/06 vs Irlandia Utara (A) 2 - 3
07/10/06 vs Swedia (A) 0 - 2
24/03/07 vs Denmark (H) 2 - 1
28/03/07 vs Islandia (H) 1 - 0
02/06/07 vs Latvia (A) 2 - 0
06/06/07 vs Liechtenstein (A) 2 - 0
08/09/07 vs Islandia (A) 1 - 1
12/09/07 vs Latvia (H) 2 - 0
13/10/07 vs Denmark (A) 3 - 1
17/11/07 vs Swedia (H) 3 - 0
21/11/07 vs Irlandia Utara (H) 1 - 0

Pelatih Luis Aragones
Luis Aragones memperoleh kepercayaan publik kembali ketika ‘krisis’ kinerja Spanyol teratasi. Tim ini, walau sempat akan dicoret dari Euro 2008, akhirnya memimpin klasemen grup usai kualifikasi.
Lahir di Hortaleza, Madrid, tahun 1938, Aragones pernah bermain di klub Real Betis Balompie, Real Oviedo dan RC Recreativo de Huelva. Prestasi terbesarnya adalah saat selama 10 tahun di Club Atletico de Madrid dari 1964. Ia mencetak sebuah gol spektakuler sehingga dijuluki Zapatones (Big boots).
Setelah pensiun 1974, Aragones langsung menjadi pelatih. Namun, sungguh sulit baginya mencari klub. Resminya, Aragones baru berhenti bermain bola pada 1986, dan akhirnya mengantar Atletico merebut Copa del Rey (Piala Raja) 1991/92.
Bersama Atletico pula, ia mengawinkan gelar juara Liga Spanyol dan Piala Liga pada 1995/96. Aragones lalu pindah ke FC Barcelona, Sevilla FC, Valencia CF, RCD Espanyol, Betis, Oviedo dan RCD Mallorca sebelum menggantikan pelatih Spanyol, Inaki Saez untuk persiapan ke Euro 2004.
Ujian Aragones terjadi lagi saat harus meloloskan Spanyol ke Piala Dunia 2006. Tim ini terpaksa bermain di babak play-off setelah berada di urutan kedua di bawah Serbia dan Montenegro. Akhirnya, Spanyol mengatasi Slovakia 6-2 secara agregat.
Sayang langkahnya di Piala Dunia 2006, dihentikan di babak 16 besar oleh Prancis, dengan skor 3-1. Itulah kekalahan pertama dari 25 kali laga tapi Aragones tetap dikontrak hingga dua tahun ke depan.

Reputasi Tim
Raihan terbaik di kejuaraan level Eropa adalah ketika Spanyol merebut gelar UEFA European Championship pada 21 Juni 1964 di Madrid. Tim ini menekuk Uni Sovyet, 2-1. Sebelumnya, Spanyol menyingkirkan Rumania, Irlandia Utara dan Rep Irlandia di babak kualifikasi sebelum mengatasi Hungaria, 2-1 di semifinal.
Hingga Kualifikasi Euro 2008, Spanyol telah memainkan 122 pertandingan sejak menang 4-2 atas Polandia di babak 16 besar pada 28 Juni 1959. Denmark mencatat rekor 120 kali laga, disusul Belanda dan Prancis, masing-masing 117 pertandingan. Dari 122 pertandingan itu, Spanyol menang 72 kali, seri 24 kali dan kalah 26 kali, dengan memasukan 260 gol dan kemasukan 108 gol.

Prakiraan Taktik
Sejumlah pemain bintang Spanyol diragukan performanya menjelang final Euro 2008. Pelatih Luis Aragones tengah meramu formula yang pas dengan stok pemain yang ada. Spanyol tidak merombak soliditas di lini belakang yang sudah terbentuk. Di bawah mistar, Iker Casillas tetap merupakan opsi utama. Rekannya di Real Madrid CF, Sergio Ramos kemungkinan berada di sisi kanan pertahanan, karena ia juga mampu menjadi full-back dan jago menyerang.
Ramos dikombinasi dengan Joan Capdevila di bek kiri sementara Carlos Marchena menemani coordinator bek, Carlos Puyol di tengah. Aragones relatif berani memainkan David Albeda di lini tengah. Namun, permainan Spanyol sebenarnya berada di pundak Xavi Hernandez dan Cesc Fabregas, gelandang serang sekaligus striker.
Jika dimainkan, Andres Iniesta menjadi pembantu yang tepat untuk keduanya. Iniesta bisa bermain untuk posisi gelandang bertahan, sayap kanan atau kiri. Sejauh ini, Aragones seringkali menukar tempat Iniesta dengan David Silva atau Joaquin. Walau bertindak sebagai gelandang, Iniesta dan juga Xavi, mampu mencetak gol. Setidaknya, ada sumbangan 7 gol dari keduanya selama kualifikasi.
Walau punya penyerang serbabisa, Aragones tetap memilih David Villa sebagai penggedor jala lawan. Sayangnya, masih tanda tanya mengenai kejelasan tandem Villa di tim Spanyol. Maklum, Aragones kini tengah mempertimbangkan perubahan formasi, apakah tetap dengan 4-4-2 atau 4-5-1. Kalau harus memasang dua striker, tampaknya, pilihan bisa jatuh ke Fernando Torres, Raul Tamudo, Fernando Morientes, atau bahkan Raul Gonzales, yang lama tak di absen membela Spanyol.

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama