Grup B : Polandia


Polandia
08/06/08 vs Jerman
12/06/08 vs Austria
16/06/08 vs Kroasia

Stok Pemain
Kiper : Artur Boruc, Jerzy Dudek, Lukasz Fabianski, Wojciech Kowalewski, Tomasz Kuszczak.
Belakang : Jacek Bak, Marcin Baszczynski, Dariusz Dudka, Arkadiusz Glowacki, Pawel Golanski, Mariusz Jop, Tomasz Kielbowicz, Adam Kokoszka, Krzysztof Lagiewka, Marcin Wasilewski, Jakub Wawrzyniak, Michal Zewlakow.
Tengah : Jakub Blaszczykowski, Grzegorz Bronowicki, Lukasz Gargula, Piotr Giza, Konrad Golos, Rafal Grzelak, Przemyslaw Kazmierczak, Kamil Kosowski, Jacek Krzynowek, Mariusz Lewandowski, Wojciech Lobodzinski, Rafal Murawski, Arkadiusz Radomski, Euzebiusz Smolarek, Radoslaw Sobolewski, Sebastian Szalachowski, Miroslaw Szymkowiak.
Depan : Tomasz Frankowski, Ireneusz Jelen, Radoslaw Matusiak, Grzegorz Rasiak, Marek Saganowski, Tomasz Zahorski, Maciej Zurawski.

Road to Final (H : Home, A : Away)
02/09/06 vs Finlandia (H) 1 - 3
06/09/06 vs Serbia (H) 1 - 1
07/10/06 vs Kazakhstan (A) 1 - 0
11/10/06 vs Portugal (H) 2 - 1
15/11/06 vs Belgia (A) 1 - 0
24/03/07 vs Azerbaijan (H) 5 - 0
28/03/07 vs Armenia (H) 1 - 0
02/06/07 vs Azerbaijan (A) 3 - 1
06/06/07 vs Armenia (A) 0 - 1
08/09/07 vs Portugal (A) 2 - 2
12/09/07 vs Finlandia (A) 0 - 0
13/10/07 vs Kazakhstan (H) 3 - 1
17/11/07 vs Belgia (H) 2 - 0
21/11/07 vs Serbia (A) 2 - 2

Pelatih Leo Beenhakker
Kariernya dianggap sukses. Pelatih asal Belanda ini membuktikan mampu berbicara di level tinggi. Leo Beenhakker berhasil membawa Polandia untuk kali pertama lolos ke final Euro Cup.
“Sungguh, ini salah satu sukses terbesar selama karier saya,” ungkapnya. Perolehan nilai Polandia di atas favorit juara grup, Portugal.
Dari Trinidad & Tobago yang sempat meramaikan Piala Dunia 2006, Beenhakker menerima pinangan pelatih Polandia pada Juli 2006. Tidak mengejutkan, dengan sukses di Euro 2008, ia diikat kontrak hingga Piala Dunia 2010.
Sejak muda, Beenhakker memilih profesi pelatih. Ia menjadi asisten di Go Ahead Eagles pada 1967 dan melatih penuh di BV Veendam, SC Cambuur dan Go Ahead sebelum menerima lamaran Feyenoord. Beenhakker lalu pindah ke AFC Ajax, mengurusi pemain muda tahun 1978 dan menjadi pelatih kepala pada 1979.
Tahun 1979/1980, Beenhakker membawa Ajax meraih Piala Belanda dan menembus semifinal European Champions Club. Setelah berkutat di dalam negeri, pada 1981, ia meneken kontrak tiga tahun dengan klub Real Zaragoza.
Sebelum kembali ke Belanda tahun 1985, Beenhakker membawa Real Madrid CF menjuarai gelar Primera Division (Liga Utama Spanyol) tiga kali beruntun, dan satu gelar Piala Spanyol.
Ia kembali ke Ajax dan merengkuh Piala Belanda pada 1988/90. Sebentar saja di tim nasional Belanda dan membantu Tim Oranye lolos hingga babak kedua di Piala Dunia 1990.
Kembali lagi ke Madrid, Beenhakker menangani Grasshopper-Club, Swiss, Arab Saudi, Club America dan CD Guadalajara di Meksiko dan Istanbulspor, Turki.
Ia pulang kampung, menuju klub BV Vitesse pada 1996 dan ke Feyenoord setahun kemudian, untuk meraih Piala Belanda pada 1998/99.
Antara tahun 2000 dan 2003, Beenhakker bekerja sebagai direktur teknik Ajax namun lagi-lagi sempat ke klub America di Meksiko. Kariernya kepelatihannya membawa juga sebagai penasihat teknik di klub utama (Eredivisie) Belanda, De Graafschaap sebelum memulai melatih Trinidad & Tobago pada Mei 2005.

Reputasi Tim
Polandia pernah menggapai Euro 1980 di Italia, ketika mengumpulkan nilai di kualifikasi grup, hanya satu poin di bawah Belanda. Angka 13 bukan angka sial, bahkan sangat berarti, karena di penyelenggaraan ke-13 ini, Polandia lolos ke Euro 2008.Hingga Kualifikasi Euro 2008, Polandi telah memainkan 90 pertandingan, 38 kali menang, 24 kali seri, dan 28 kali kalah, dengan memasukan 131 gol dan kemasukan 100 gol.

Prakiraan Taktik
Tersingkir langsung di babak penyisihan Piala Dunia 2006, Polandia dianggap sebelah mata. Pesimisme hinggap lagi, karena di awal Kualifikasi Euro 2008, kalah 1-3 dari Finlandia. Usai kekalahan ini, pemain Miroslav Szymkowiak memutuskan mundur dari karier internasionalnya. Langkah serupa diikuti Jerzy Dudek.
Pelatih Leo Beenhakker yang menggantikan Pawel Janas bekerja keras mengembalikan kepercayaan tim. Hasilnya, Polandia berubah menjadi tim yang disegani. Pantas jika pada akhir 2007, majalah Wprost memberi penghargaan Beenhakker sebagai Man of the Year.
Di tim, Beenhakker mengganti Dudek dengan Wojciech Kowalewski sebelum memilih opsi utama dengan Artur Boruc. Posisi Szymkowiak di ujung tombak diisi Maciej Zurawski. Pada sayap, Beenhakker lebih suka menggunakan tenaga Jakub Blaszczykowski dan Jacek Krzynowek, dibantu duet bertahan di tengah.
Lini tengah yang biasa ditempati Radoslaw Sobolewski kosong karena ia mundur, dan salah satu opsinya adalah Dariusz Dudka bersama Mariusz Lewandowski. Dua gelandang bertahan ini baru dicoba saat bertemu Belgia di kualifikasi.
Yang mengkhawatirkan Beenhakker adalah barisan pertahanan. Kekuatannya kurang stabil. Ada empat pemain bertahan yang selalu menjadi pilihan.
Hanya saja, semua bisa berubah, karena Beenhakker tidak menerapkan satu formasi. Ia kadang memainkan formasi 4-4-2, atau 4-5-1, atau 4-3-3, dengan kunci pada penguasaan bola dari kaki ke kaki.

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

أحدث أقدم